Hubungi Kami

Informasi lengkap anda dapat menghubungi kami melalui

email saifuddinaman@gmail.com
phone 0857 7900 817
bb --------------
 
Rekening Kami
0392 0101 8973 501 (an H SAIFUDDIN AMAN)
0014788608 (an SAIFUDDIN AMAN H)
2281317824 (an H SAIFUDDUN AMAN)
 
Visitor
Flag Counter
Ajian dan Kesaktian
Tanggal Posting : Selasa, 29 Desember 2015
Pengirim : Ust Saifuddin - dibaca 644 kali

Setiap bangsa di dunia, atau kelompok masyarakat di dalam suatu negara memiliki budayanya sendiri-sendiri. Di antara sekian banyak budaya yang mereka miliki dan mereka ciptakan adalah budaya “Spiritual” yang menjadi landasan batin dan kekuatan mental untuk menghadapi realitas kehidupan. Dengan spiritualitas, mereka punya “kedigdayaan, kesaktian dan ajian”, mereka punya optimisme, mereka menarik manfaat, menolak madharat, melakukan hal-hal yang luar biasa, mempengaruhi orang lain dan sebagainya. Spiritual bukanlah agama, maka orang-orang yang tidak beragama dan orang-orang yang tidak menjalankan perintah agama bisa punya spiritualitas, termasuk kaum atheis dan penentang Tuhan. Bagi mereka, untuk bisa punya spiritualitas tidak perlu ibadah secara syariat. Mereka cukup menjalankan ritual dan menjalakan kebaikan secara universal, tanpa syariat dan tanpa ibadah. Kalau toh ada ritual atau prosesi yang sangat sakral untuk menguatkan spiritualitas semisal samadi, bertapa, meditasi dan sebagainya, maka itu bukanlah ibadah.  Sebab yang namanya ibadah (yakni Ibadah Mahdhah) itu ada aturan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah ditentukan kaifiyat, rukun dan syaratnya, tidak boleh dibuat-buat sendiri.

Salah seorang teman yang punya kelebihan luar biasa dalam ilmu magnetisme, mesmesrisme, hipnotisme dan energi semesta alam, pernah menulis dalam status FB-nya: “Kerusakan dan kehancuran bangsa di Timur Tengah, itu karena orang-orangnya terlalu banyak ibadah.” Artinya, menurut dia, spiritualitas bisa diperoleh dengan berbagai cara tanpa ibadah. Bahkan ibadah itu sendiri menurut pemahamannya justru menjadi penyebab kekacauan hidup, syariat justru menghadirkan pembenaran paham sendiri dan akhirnya pemeluknya menciptakan peperangan. Menanggapi stutus tersebut, ada seorang berkomentar: “Kalau begitu Dolly Surabayat yang sudah dibubarkan lebih baik dipindahkan saja ke Timur Tengah supaya bangsa Arab tidak terus bertikai.”

Teman kita ini menyimpulkan bahwa ibadah tidak perlu, yang penting adalah berbuat baik dan menemukan “Hakikat.” Dan untuk sampai pada hakikat tidak harus beribadah dan tidak perlu syariat. Penemuan hakikat berarti sampai pada spiritualitas. Dan dengan spiritualitas semacam itu seseorang bisa mempunyai kekuatan dahsyat atau kesaktian seperti AJI KAWIJAYAN, KANURAGAN, GENDAM, PELET, KEMAT dan sebagainya.  Dan kemampuan semacam itu kini mulai banyak diajarkan dalam pelatihan-pelatihan khusus di berbagai tempat.

Menurut Babad Tanah Jawa, masyarakat Jawa adalah masyarakat yang punya budaya spiritual tinggi, seperti masyarakiat Yunani, Romawi, Mesopotamia, Mesir, India, China dan sebagainya. Candi dan tempat-tempat pertapaan  yang menjadi warisan dunia di tanah Jawa adalah bukti tingginya budaya  spiritual masyarakat Jawa. Dan ternyata begitu banyak kesaktian-kesaktian yang diciptakan oleh masyarakat Jawa kuno sebagai hasil dari budaya spiritualitas seperti contoh tersebut di atas dengan berbagai nama.

Budaya sipiritual itu sebuah keniscayaan. Pakar neurologi menyatakan bahwa setiap orang punya “Titik Tuhan.” Tuhan memberi naluri kepada setiap orang untuk bisa merasakan hal-hal besar yang tidak bisa diraskan dengan indra biasa, bisa menyelesaikan masalah yang tidak bisa dilesaikan dengan logika dan cara biasa. Di balik realitas hidup ini ada begitu banyak hal-hal gaib. Bahkan prosentasinya atau realitas yang bisa diindra maksimal ada 5 % dan sisanya yang 95 % adalah gaib.

Untuk mengembangkan budaya spiritualitas itulah mereka merancang cara dan teknik-teknik yang bisa menghadirkan kajaiban atau hal-hal yang luar biasa. Dengan cara melakukan ritual, bertapa, bersamadi, mengundang ruh, menyerap energi, memperkuat daya magnet dan sebagainya, mereka memateralisasikan keinginannya. Teknik-teknik yang dilakukan secara khusus dan punya efek khusus diberi nama sesuai dengan efek yang ditimbulkan, misalnya diberi nama “Ilmu atau Aji Jaran Goyang” karena punya efek bisa membuat orang bisa tergoyang pikirannya dan tergila-gila karena cinta. Mislanya lagi untuk kekebalan tubuh disebut Aji Kawijayan, untuk mempengaruhi orang sehingga takluk disebut Ilmu/Aji Gendam, Ilmu Pelet, Ilmu Kemat dan sabagainya.

Bagi Islam, budaya spiritual yang sudah ada sebelum Islam datang di suatu bangsa adalah sebuah keniscayaan, tidak dipungkiri. Sebab budaya itu ada sesuai dengan perkembangan pikiran dan kebutuhan hidup manusia pada waktu itu.  Namun karena belum datang kepadanya seorang rasul atau seorang dai, maka budaya itu tumbuh sesuai dengan daya nalar dan daya dukung yang ada di tengah-tengah masyarakat. Boleh jadi budaya itu dibawa oleh agama sebelumnya, boleh jadi budaya itu dicipta oleh orang-orang tertentu yang memiliki kekuatan ciptarasa tinggi, kemudian diikuti oleh masyarakata secara umum sehinnga menjadi semacam peninggalan atau warisan ilmu leluhur atau ilmu adhiluhung.

Namun sesuai dengan keyakinan saya dan juga orang-orang yang seagama dengan saya, yakni Islam, maka ketika kita sudah menyatakan sebagai seorang muslim, kita harus masuk ke dalam Islam secara kaffah, secara menyeluruh. Budaya apa saja yang sudah ada sebelumnya harus dilihat secara arif dan bijaksana. Yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam dilestarikan dan dikembangkan.  Yang bertentangan dengan prinsip Islam harus disingkronkan, atau kalau budaya itu mengandung nilai-nilai Islam tetapi kaifiyatnya bertentangan dengan Islam, maka dia harus dirombak atau dimodifikasi agar tidak bertentangan dengan Islam. Ingat, budaya spiritialitas bukanlah ibadah, maka apapun perubahan dan sinkronisasi yang dilakukan  demi menjaga dan mengembangak budaya bukanlah “BID’AH.”

Asas perombakan harus merujuk kepada prinsip Islam, dengan ciri-ciri:
-Tidak diamalkan atau diterapkan dalam ibadah mahdhah.
-Tidak ada kemusyrikan.
-Tidak ada kemubaziran.
-Tidak ada kezaliman.
-Ada asas kemanfaatan/kemaslahatan yang besar.

Kajian terkait

Halaman 1


 
Copyright © 2015 saifuddinaman.com All Rights Reserved
Web Development by YOGYAweb