Hubungi Kami

Informasi lengkap anda dapat menghubungi kami melalui

email saifuddinaman@gmail.com
phone 0857 7900 817
bb --------------
 
Rekening Kami
0392 0101 8973 501 (an H SAIFUDDIN AMAN)
0014788608 (an SAIFUDDIN AMAN H)
2281317824 (an H SAIFUDDUN AMAN)
 
Visitor
Flag Counter
HALAL BIHALAL
Tanggal Posting : Sabtu, 16 Juli 2016
Pengirim : Saifuddin Aman - dibaca 360 kali

HALAL BIHALAL

 Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah!

Mari kita bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Mari kita sampaikan shalawat dan salam untuk baginda Rasulullah dengan mengucapkan “Allahumma shalli wasallim ala sayyidina muhammad.” Dan mari bermohon kepada Allah semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah, yang dirindukan Allah, yang disayang Allah, yang dirahmati Allah, yang diberkahi Allah, yang hidup istiqamah, yang berjuang dan rajin ibadah, panjang umur sihhah wal  afiah, diberikan rezeki berlimpah ruah, yang hidup rukun sakinah mawaddah wa rahmah, diberikan anak cucu yang shaleh dan shalehah, hidup hamonis saling berkhidmah, watawashu bishshabri watawashau bilmarhamah, dijauhkan dari tipudaya dan fitnah, diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah, meraih hidup husnul khatimah, masuk syurga dengan berjamaah, bersama golongan orang-orang yang diberikan rahmah.

Saudara dan saudariku semua yang dimuliakan Allah!

Belum lama kita berpisah dengan bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan kemarin kita membangun hubungan yang indah dengan Allah. Hubungan indah dengan Allah ini kita sebut SILATUR RUH, yaitu dengan banyak melakukan ibadah dan amal shaleh agar mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya. Malam hari kita isi dengan shalat Taraweh dan shalat Tahajjud, siang harinya kita isi dengan berpuasa dan banyak melakukan kebaikan. Dengan silaturruh yang indah itu, maka Allah mengampuni dosa kita dan akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Praktis sejak tanggal 1 Syawal kita menjadi orang yang bersih, tidak punya dosa lagi kepada Allah Swt.

Kalau kepada Allah kita membangun silaturruh yang sangat indah, lalu kita dibersihkan dari dosa dan diampuni kesalahan-kesalahan kita, maka bagaimana dengan sesama manusia? Bukankah di antara kita sering terjadi kesalahan? Dan kesalahan itu menjadi ganjalan atau penghalang perjalan menuju Allah? Maka agar kita menjadi manusia yang bersih dari dosa terhadap sesama, kita harus adakan SILATURRAHIM, yaitu menyambung hubungan baik dengan sesama, dengan saling meminta maaf dan member maaf antara sesama, antara suami dengan istri, antara anak dengan orang tua, antara tetangga dengan tetangga, antara kawan dengan kawan, antara murid dengan guru, antara majikan dengan pembantu, antara pimpinan dengan anak buah. 

Maka di sinilah hebatnya kakek nenek dan leluhur kita bangsa Indonesia. Mereka membuat tradisi dan budaya yang benar-benar bernuansa Islami tanpa harus meneriakkan Syariat Islam,  yaitu sebuah momentum sebagai penjabaran dan pengejawentahan dari perintah Allah dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ ﴿الرعد: ٢٥﴾

Orang-orang yang merusak perjanjian atas nama Allah setelah diberikan kepercayaan, orang-orang yang memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, baginya akan mendapatkan laknat dan bagi mereka tempat yang seburuk-buruknya (QS. Ar-Ra’d: 25).

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿المائدة: ١٣﴾

Maka maafkan mereka dan lepaskanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-Maidah: 13).

Bangsa Arab yang nglotok dan sangat fasih dalam berdalil agama tentang pentingnya saling memaafkan dan terus menyambung silaturrahim, tidak punya budaya seperti yang kita lakukan setiap selesai Ramadhan. Acara saling maaf-memaafkan, saling silaturrahim, saling berkunjung, saling memberi ketupat, berkumpul di suatu tempat untuk berbagi kasih dan sayang ini sudah diterapkan oleh para Walisongo setiap kali selesai menjalankan shalat Idul Fitri. Momentum tradisi dan budaya semacam ini menjadi sangat terkenal setelah Bung Karno Presieden RI pertama mempopulerkannya dengan sebutan HALAL BIHALAL.

Budaya ini ditandai dengan simbol makanan yang dibuat oleh ibu-ibu berupa KUPAT dan Opor. Kalau di Jawa ditambah dengan LEPET. Kupat dan Opor merupakan kepanjangan kalimat: Ngaku Lepat, nyuwun apura. Ngaku=Menyadari. Lepat=salah. Apura=ampun. Maksudnya, bahwa dalam berinteraksi sosial, setiap diri itu punya salah, maka pada saat itu masing-masing meminta maaf dan meminta diampuni.

Lepet kepanjangan dari kata: Disilep Rapet. Disilep artinya ditutup, rapat artinya dijaga, tidak diungkit, tidak disiar-siarkan keburukannya. Maksudnya, semua kesalahan dan dosa yang telah terjadi mohon dimaafkan, dikubur rapat-rapat, dihapuskan, jangan diungkit kembali, jangan diingat-ingat kembali. Orang yang berbuat tidak baik kepada kita, ya sudah ampuni dia dan jangan diingat-ingat kesalahannya.

Setiap rumah atau keluarga di Jawa sesudah Idul Fitri mesti saling mengirim Kupat, Opor dan Lepet ini secara bergantian, satu keluarga menerima kiriman dan dia juga memberi kepada yang lain.

KUPAT, juga singkatan dari Laku Papat, disimbulkan dalam bentuk janur yang dianyam sedemikian rupa menjadi segi empat. Kupat di Jawa dibuat selalu berkatian dengan selesainya Ramadhan dan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Segi empat itu merupakan simbol Laku Papat (prilaku empat), yaitu:

1. Lebaran. Lebar artinya sudah selesai dari perjuangan dan mendapatkan kemenangan. Kemenangan itu dirayakan dengan penuh kegembiraan. Bukti kegembiraannya diwujudkan dengan memberi THR, berbaju baru, memberikan uang jajan kepada anak-anak, dsb.

2. Leburan. Lebur artinya dilebur kesalahannya, dihancurluluhkan sehingga tidak ada lagi bentuknya.

3.  Laburan. Labur artinya ditutup, dipoles habis dengan cat putih, keburukannya ditutup jangan diungkit.

4.  Luberan. Luber artinya tumpah ke sekitar, yakni memberikan sebagian apa dia punya kepada orang-orang yang ada di sekitar.

Walhasil, kaum muslimin dan muslimat seharusnya memahami ajaran Islam tidak hanya sebatas yang tertulis atau syariat lahiriah saja. Jangan karena tidak melihat ada tulisan, lalu menganggap tidak ada. Jangan karena belum tahu, lalu menganggap tidak ada. Syariat memang pokok, tetapi keindahan beragama itu ada dalam implementasinya. Dan kita tidak bisa mengimplementasikan agama dengan tepat dan sampai pada hakikat, kalau tidak tahu substansi, esensi, dan maqashid syariah.

Kupat atau Laku Papat (Perilaku Empat), orang para leluhur di Jawa dimaksudkan juga adalah prilaku empat indra yang ada di bagian atas atau wajah manusia. Prilaku 4 itu adalah:

1.Prilaku Mata.

2.Prilaku Hidung.

3.Prilaku Mulut.

4.Prilaku Telinga.

Kesalahan kita lebih banyak disebabkan oleh informasi yang diterima melalu 4 indra tersebut. Maka 4 indra ini harus dijaga benar-benar, tidak boleh digunakan sesukanya, karena bisa menjatuhkan diri kepada kesalahan dan kesengsaraan hidup. Maka Kanjeng Sunan Kalijaga membuat alat pertanian yang disebut PATCUL, yaitu alat yang dipakai untuk menjejak tanah, membetulkan aliran air, membetulkan batas sawah, dan bahkan untuk membedah gangguan yang ada di sawah. Terdiri dari besi baja segi empat dan di belakangnya diberi tempat untuk gagang pegangan.

PATCUL, kepanjangan dari kata PAPAT OJO UCUL. Artinya 4 indra yang paling penting di bagian wajah itu harus digunakan sebaik-baiknya, jangan sampai lepas kendali. Sebab kalau lepas kendali bisa berbahaya. Gambaran bahayanya dari lepas kendali terhadap 4 indra tersebut, disebutkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dalam nyanyian anak-anak yang berbunyi:

“Gundul-gundul pacul gembelengan

Nyunggi wakul gembelengan.

Wakul glempang segane dadi sak ratan.”

Di dalam hadis Rasulullah Saw banyak sekali disebutkan tentang “laku papat” yang akan mengantarkan kita menjadi orang cerdas dan hidup bahagia.

Saudara dan saudari yang dimuliakan Allah!

Ramdhan dan puasanya telah kita lewati dengan suka cita. Secara lahir, kita kini tidak berpuasa Ramadhan lagi, tidak taraweh lagi, tidak menjalankan ibadah seperti yang kita jalankan di bulan Ramadhan.  Sepertinya selesai Ramadhan, selesai amal kebaikan. Selesai Ramadhan, selesai ibadah. Demikianlah, kalau kita menjalankan ibadah hanya sebatas formalitas secara hitam putih. Selesai ibadah kita tidak merasakan apa-apa dan tidak menemukan apa-apa untuk ditindaklanjuti di hari-hari berikutnya.

Karena itu, mari kita ketemukan makna dari setiap ibadah yang kita lakukan. Hendaknya setiap ibadah yang kita lakukan itu kita ketemukan hakikatnya. Hendaknya setiap perintah Allah itu kita bisa rasakan pengaruhnya sesudah dijalankan. Hendaknya setiap ketentuan Allah itu kita bisa ketemukan substansinya. Dan lebih penting lagi, hendaknya setiap ibadah itu kita bisa rasakan kelezatannya dan kita rasakan efek pisitifnya yang berkelanjutan. Sebab ketika Allah mentetapkan sebuah syariat, di situ pasti ada maqashid syariatnya atau tujuan syariat. Setiap Allah menetapkan sebuah ibadah, pasti di situ ada tujuan disyariatkannya ibadah. Tujuan disyariatkannya ibadah di antaranya adalah agar kita mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, kita menjadi manusia baik dan menjadi agen kebaikan.

Kebaikan dunia harus terwujud lebih dahulu dan bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain, baru nanti akan diperoleh kebaikan di akhirat. Ramadhan dan puasa secara hakikat adalah pendidikan, pengajaran dan pelatihan dari Allah agar kita menjadi:

1. Orang yang bersyukur.
2. Orang yang bersabar.
3. Orang yang berbuat baik.
4. Orang yang berkasih sayang.

Orang yang bersyukur, yaitu orang yang menerima kondisi yang ada dan apa yang ada dengan ridha dan senang hati. Dia merasa cukup, tidak merasa kurang dan bahkan merasa lebih, lalu yang ada itu digunakan sebaik-baiknya untuk taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan, berkhidmah kepada orang lain dan kepentingan social, di samping tentunya untuk diri sendiri dan orang-orang yang dicintainya. Itulah makna syukur sebagaimana yang didefinisikan oleh Ibnu Allan dalam kitab Dalil Al-Falihin:

 

الشكر: الاعتراف بالنعمة، والقيام بالخدمة

Artinya:

Syukur yaitu mengetahui dan mengakui adanya nikmat dari Allah dan menggunakannya untuk berkhidmah.

Orang yang bersabar, yaitu orang yang bisa menahan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan dan dari hal-hal yang dilarang Allah, konsisten menjalankan apa yang sudah direncanakan oleh pikiran dan ditetapkan oleh syariat. Demikianlah substansi sabar sebagaimana didefinisikan oleh Al-Asfahani:

حبس النفس على ما يقتضيه العقل والشرع

Sabar yaitu mengelola diri dengan tindakan untuk menghadapi apa yang telah ditetapkan oleh akal dan syara’ atau ketentuan Allah (dari kitab Mufradat Alfazh Al-Qur’an Al-Karim).

Syarat orang yang sabar, menurut Ali bin Abi Thalib, yaitu: tidak malas, tidak capek, dan tidak mengeluh.

Orang yang berbuat baik, yaitu orang yang terus melakukan kebaikan walau diperlakukan tidak baik orang lain. Orang baik bukanlah orang yang sehari-hari hanya duduk di dalam masjid, tetapi dialah yang berhubungan dengan masyarakat dan terlibat dalam membantu urusan mereka. Orang yang baik, dialah orang yang bergumul dengan orang-orang yang tidak baik, lalu memberikan pencerahan kepada mereka. Orang-orang buruk baginya adalah batu ujian untuk meningkatkan kebaikannya.

  • Guru yang baik, bukanlah guru yang mengajar anak-anak pintar, tetapi mereka yang mengajar anak-anak bodoh dan menjadikannya pintar. Pepatah Cinta mengatakan: Tidak ada murid yang bodoh dan nakal, yang ada adalah guru yang tidak pandai mendidik.
  • Kiyai yang baik adalah mereka yang terjun dan berbaur dengan orang-orang tidak baik dan membuat mereka menjadi baik.

 Untuk menjadi orang baik, kita harus:

1. Membiasakan berbuat baik, walau dengan hal-hal yang kecil.

2. Banyak belajar dan berkumpul dengan orang-orang shaleh.

3. Berpikir baik/positif dan tidak mengingat-ingat keburukan orang.

Orang yang berkasih sayang, yaitu orang yang lembut hatinya, lapang dadanya, menebar senyum, berbagi kasih kepada sesama, peduli dan simpati kepada orang-orang yang kurang baik nasibnya. Inilah orang yang disebut Allah sebagai orang yang penuh kasih sayang, yang dicotohkan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah menyatakan:

الراحمون يرحمهم الرحمن

ارحموا من فى الارض يرحمكم من فى السماء

Orang-orang yang berkasih sayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyanyang. Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka kamu akan disayang oleh makhluk yang ada di langit.

Kasih sayang atau rahmat adalah modal pokok untuk masuk syurga. Maka dapatkan kasih sayang atau rahmat Allah dengan berbagi rahmat atau kasih sayang terhadap sesama.

Dengan kasih sayang, dia berikan apa yang bisa diberikan sesuai dengan kemampuannya. Dia memberi dan tidak pelit. Tentu pemberian itu sesuai dengan kondisinya masing-masing:

  • Burung emprit, ia adalah burung kecil, maka dia memberi telur sesuai dengan

Kajian terkait

Halaman 1


 
Copyright © 2015 saifuddinaman.com All Rights Reserved
Web Development by YOGYAweb