Hubungi Kami

Informasi lengkap anda dapat menghubungi kami melalui

email saifuddinaman@gmail.com
phone 0857 7900 817
bb --------------
 
Rekening Kami
0392 0101 8973 501 (an H SAIFUDDIN AMAN)
0014788608 (an SAIFUDDIN AMAN H)
2281317824 (an H SAIFUDDUN AMAN)
 
Visitor
Flag Counter
Kekayaan Anda Di Sekitar Anda
Tanggal Posting : Selasa, 22 Marett 2016
Pengirim : Ust Saifuddin - dibaca 378 kali

KEKAYAAN KITA ADA DI SEKITAR KITA

Disebutkan dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

ياابن آدم خلقتُ الأشياء كلها من أجلك وخلقتُك من أجلي فسِر في طاعتي يُطِعك كلُّ شئ

Hai anak Adam! Aku ciptakan segala sesuatu demi kamu, dan Aku ciptakan kamu demi Aku, maka berjalanlah di dalam ketaatan kepada-Ku, niscaya akan taat kepadamu segala sesuatu.

Setiap orang punya potensi menjadi kaya, bisa mendapatkan apa saja dan bisa melakukan apa saja. Sebab memang segala sesuatu dicipta oleh Allah untuk manusia. Segala sesuatu telah dihamparkan Allah sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada manusia. Allah mempersilakan kepada kita untuk meraihnya dengan daya kita. Allah telah memastikan siapa yang taat kepada Allah dan mengikuti sunnatullah, maka semesta alam akan taat kepadanya. Dan untuk meraihnya, Allah memberikan modal dasar kepada kita berupa pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Allah berfirman:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ ﴿٢٣﴾

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur (Al-Mulk: 23)
.
Orang-orang yang sukes adalah mereka yang bisa memberdayakan pendengaran, penglihatan dan hati nuraninya. Orang-orang yang terbuka pendengaran, penglihatan dan hati nuraninya, merekalah yang “Bisa Merasa.” Orang-orang yang tertutup pendengarannya, penglihatannya dan hati nuraninya, merekalah yang hanya “Merasa Bisa.”

Beda orang yang “Bisa Merasa” dengan orang yang “Merasa Bisa.” “Bisa merasa” itu benar-benar bisa dan sudah mendapatkannya ada dalam dirinya, mengetahui hakikatnya, dan menemukan nilainya, kemudian menghargai dan memuliakannya. “Merasa Bisa” itu aslinya tidak bisa, tapi sok bisa, tidak mengetahui hakikat dan tidak menemukan makna. Maka orang yang “Merasa Bisa” biasa suka meremehkan, suka mencela, tidak menghargai dan tidak memuliakan apa yang ada pada orang lain.

Orang yang “Merasa Bisa” biasanya dalam mengukur sesuatu menggunakan tolok ukur yang jauh. Dia melihat yang ada di luar jauh lebih baik. Cara melihatnya sama seperti melihat matahari. Sudah dipastikan setelah meilhat matahari, dia akan silau sehingga tidak melihat bahwa di dekatnya ada sesuatu yang baik. Semua benda terlihat buram.

Dalam soal ilmu misalnya. Orang yang berilmu ada di dekatnya terlihat buram. Dalam soal wanita, dia akan melihat istrinya buram. Dalam soal harta, dia akan melihat hartanya buram dan dianggap tidak punya atau kurang. Padahal yang ada di sekitar kita itu nilai dan hakikatnya adalah sama isinya, bahkan kalau diasah bisa jauh lebih baik daripada yang ada di luar sana. Atau bisa jadi karena terlalu silau, kita tidak melihat bahwa di sekitar kita itu banyak sekali kekayaan Allah yang berguna untuk kita.

Ada kisah nyata yang sangat isnpiratif dari benua Afrika. Seorang petani pemilik ladang yang luas, matanya silau terhadap cerita yang ada di luar sana, sehingga silau dan buram terhadap segala sesuatu yang ada di sisinya. Dia ingin menjadi kaya setelah mendengar kisah bahwa di suatu tempat orang sedang ramai-ramai menambang emas dan pasir besi. Untuk menambang emas dan pasir besi diperlukan modal, maka dia jual ladang tanahnya kepada orang lain (bernama Hafidh). Mulailah dia menambang, dan ternyata yang dia dengar dari cerita orang tidak sesuai dengan harapan. Tambang pasir besi dan emas itu ternyata tidak seberapa hasilnya dan akhirnya dia ditinggalkan oleh teman-temannya dalam kerugian. Ladang yang luas sudah terjual dan uang habis. Dalam kondisi stress, dia berjalan linglung di atas jembatan dan terjatuhlah ke dalam sungai yang deras, meninggal dunia.

Sementara pemilik ladang baru, mulai ancang-ancang menggarapnya. Dia lihat ladang itu banyak bebatuan. Maka dia ambil beberapa batu dan dibawa pulang, kemudian diletakkan begitu saja di sudut rumah.

Suatu ketika datang seorang pendeta dari kota dan melihat batu itu. Pendeta itu memungutnya dan bertanya: Anda dapat batu ini dari mana? Petani itu menjawab: Buat apa batu itu? Batu itu tidak ada harganya dan banyak sekali di ladang saya. Pendeta itu berkata: Ini adalah berlian. Coba Anda bersihkan dan Anda gosok, nanti Anda akan melihat keindahannya. Kalau tidak percaya, coba Anda bawa ke tukang batu permata dan Anda jual kepadanya, nanti Anda akan menjadi orang kaya raya.

Benar. Setelah dibawa ke tukang batu permata, batu yang cuma segenggam itu dihargai sangat mahal. Petani yang tadinya miskin menjadi kaya. Dan tersiarlah berita ini ke semua petani yang ada di sana. Mereka pun melakukan hal yang sama, sehingga pada akhirnya para pemilik ladang menjadi kaya. Sial bagi petani yang silau dengan cerita dari luar dan mengabaikan apa yang ada di sisinya.

Inilah pelajaran bagi kita. Allah telah memberi karunia berupa pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Ketiganya adalah alat untuk menemukan kekayaan yang ada di sekitar kita, menemukan kekayaan yang ada dalam diri kita. Ketiganya menjadi alat untuk membuat kita cerdas dan bisa menemukan seluruh makna dalam kehidupan kita.
Di sekitar kita banyak berlian yang kalau diasah sangat mahal harganya dan menjadi harta kekayaan kita. Di sini ada orang-orang yang punya potensi besar, ada orang-orang yang bisa memberikan bimbingan dan kajian agama. Tetapi karena pendengaran dan penglihatan kita sudah silau dengan yang di luar sana, sementara hati nurani dan akal kita juga tidak berfikir obyektif, maka orang-orang yang ada di sekitar kita terlihat buram, kita anggap seperti batu yang hanya ditaruh di sudut rumah tadi. Untuk tahu kadar atau nilai seseorang, maka tanyakan kepada orang yang lebih tahu, seperti Anda menanyakan tentang berlian kepada ahli permata. Jangan menanyakan harga atau kualitas batu berlian kepada tukang sol sepatu. Jangan menanyakan kualitas kajian seorang ustadz kepada insinyur, sama juga jangan menanyakan kualitas bangunan kepada seorang ustadz.

Dikisahkan juga, batu cincin berlian yang dimiliki oleh Waliyullah Syaikh Al-Junaid Al-Baghdadi yang ahli tasawuf. Suatu ketika beliau didatangi oleh seorang Ahli Syariah yang menyatakan bahwa tasawuf itu tidak ada gunanya, tidak perlu dan buang-buang waktu dalam ibadah. Maka beliau dengan senyum manis mengatakan: “Ya gak apa-apa, biarlah saya yang menjalankannya bersama orang-orang yang mengetahuinya. Tetapi kalau boleh saya minta tolong! Ini saya punya batu, tolong Anda jual untuk keperluan saya.” Maka berangkatlah Ahli Syariah itu ke pasar dan menawarkan batu itu di sana. Dari ujung pasar yang satu sampai ke ujung yang lain, tak ada satu orang pun yang mau manawarnya. Batu itu tidak laku dijual di pasar. Kemudian Ahli Syariah itu pulang dan mengembalikannya kepada Syeikh Al-Junaid. Syeikh Al-Junaid bertanya: “Anda jual di mana?” Ahli Syariat itu menjawab: “Saya menjualnya di pasar.” Syeikh Al-Junaid mengatakan: “Tentu saja tidak ada orang yang mau, mereka tidak ngerti. Sekarang Anda bawa ke tukang batu permata.” Maka berangkatlah Ahli Syariat itu ke sana. Dan dia terkejut setelah tukang batu permata menyatakan: “Ini batu harganya sangat mahal sekali, saya tidak punya modal untuk bisa membeli batu ini, coba Anda bawa ke toko permata besar Anu nanti pasti kamu mendapatkan uang yang sangat banyak.” Dari situ dia langsung pulang menghadap Syeikh Al-Junaid dan menceritakan harganya. Syeikh Al-Junaid kemudakan berkata: “Orang yang tidak tahu Tasawwuf, sama dengan orang yang melihat batu berlian dianggap sama dengan batu kali.”

Intinya, orang yang tidak ngerti sesuatu, pasti tidak tahu nilainya. Bisanya orang semacam ini cenderung memusuhi dan meremehkannya, persis dengan pepatah:

الانسان دائما عدو ما يجهل

Manusia selamanya akan memusuhi sesuatu yang dia bodoh terhadapnya.

Kajian terkait

Halaman 1


 
Copyright © 2015 saifuddinaman.com All Rights Reserved
Web Development by YOGYAweb