Hubungi Kami

Informasi lengkap anda dapat menghubungi kami melalui

email saifuddinaman@gmail.com
phone 0857 7900 817
bb --------------
 
Rekening Kami
0392 0101 8973 501 (an H SAIFUDDIN AMAN)
0014788608 (an SAIFUDDIN AMAN H)
2281317824 (an H SAIFUDDUN AMAN)
 
Visitor
Flag Counter
Tasawuf Adalah Solusi Masa Kini
Tanggal Posting : Sabtu, 17 Oktober 2015
Pengirim : Admin - dibaca 655 kali

Tasawuf Adalah Solusi Masa Kini


Hidup senang adalah dambaan setian insan. Sedangkan kesenangan hakiki itu sendiri adanya dalam hati, dan itu bisa diciptakan oleh pikiran dan diwujudkan dengan perasaan, tidak harus menunggu kalau sudah punya ini dan itu, tidak  harus menunggu kalau sudah punya uang yang banyak dan juga tidak harus menunggu terpenuhinya yang semua yang diinginkan. Untuk menciptakan kesenangan, Anda bisa memberikan makna dari apa yang Anda kerjakan, atau memberikan makna besar atas apa yang sudah Anda punyai sekarang ini. Misalnya, Anda hari ini bisa menolong orang lain, maka berikan makna bahwa yang Anda lakukan itu besar artinya bagi Anda sehingga Anda merasa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika Anda bisa menolong orang, maka Anda akan senang.  Atau, Anda maknai anak Anda yang lucu itu sebagai anugerah yang paling indah dari Tuhan yang tidak dimiliki oleh orang lain, maka Anda akan menjadi senang. Jangan menentukan kesenangan, atau menetapkan standar kesenangan dengan materi. Sebab kalau orang sudah punya materi, dia akan punya keinginan yang lain lagi. Sudah punya satu ingin dua, sudah punya dua ingin tiga, begitu seterusnya…. lagi, lagi, dan akhirnya gila.  Jika Anda menjadikan materi sebagai ukuran kesenangan, maka Anda akan menjadi budak kesenangan materi. Menurutkan kesenangan hidup, pada akhirnya menjadikan seseorang sangat hedonis, yakni mengikuti mazhab “Hedonisme” yaitu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Manusia hedonis adalah manusia yang mengukur kehidupannya dengan materi. Dia baru merasa hidup kalau sudah punya banyak materi. Semua pikiran, mulai dari bangun tidur sampai kembali lagi mau tidur diarahkan kepada materi. Setiap waktu yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan uang dan bagaimana membelanjakannya . Demi untuk mendapatkan uang dan materi, acapkali seseorang menghalalkan segala cara. Dan inilah awal mula petaka di muka bumi. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).

Petaka dan kerusakan bumi memang dimulai dari kerakusan manusia terhadap materi. Al-Qur’an menyebutkan bahwa kerusakan disebabkan oleh “tangan-tangan manusia”. Tangan adalah simbul kekuasaan untuk melakukan apa saja. Orang yang rakus tangannya akan bergerak mengambil apa saja dengan cara apa saja tanpa memperhitungkan akibatnya. Yang terpikir baginya hanyalah bagaimana bisa mendapatkan apa yang disenangi.

Al-Qur’an menyebutkan banyak penyebab kerusakan di muka bumi ini. Penyebab yang banyak itu kalau kita renungkan, ternyata merupakan turunan dari “kerakusan” atau terlalu cinta kepada dunia. Allah menyatakan: “Kerakusan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke kuburan” (QS. At-Takatsur).  Dan itulah sebab utamanya. Mari kita perhatikan penyebab kerusakan di muka bumi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

1. Menurutkan hawa nafsu. Inilah bahaya yang mengancam ketentraman dunia. Kebenaran bagi mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan nafsunya, cocok dengan yang disenangi dan diyakini menguntungkan dirinya. Untuk memperkuat apa yang telah menjadi kesenangannya itu, mereka menggunakan tafsir tunggalnya sendiri atas undang-undang, peraturan dan dalil yang ada. Nash agama dengan tafsir tunggalnya dipakai sebagai dalil untuk melegalkan apa yang dilakukan. Allah berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya (QS. Al-Mukminun: 71)

2. Sikap permisif dan masa bodoh. Salah satu efek dari kemajuan zaman adalah bahwa hidup menjadi sangat indiviudalistik. Masyarakat tidak lagi peduli dengan lingkungan, karena asyik dengan dunianya sendiri. Orang-orang yang datang membawa keburukan dibiarkan dan orang yang jelas-jelas melanggar norma didiamkan tanpa teguran. Orang-orang baik diam membiarkannya, dengan alasan hak individu. Orang-orang yang diberikan otoritas mengawasi kemungkaran diam tanpa kata bahkan ikut bermain bersama. Pembiaran inilah yang disebut permisif, yang berarti menyuburkan tumbuhnya keburukan. Satu keburukan yang dibiarkan akan berkembang dan menyebar ke mana-mana, sama seperti virus yang cepat beranak-pianak dan bermutasi menyebar, dan akhirnya menular kepada semua penduduk di satu kampung. Celakanya, bila bencana menimpa penduduk sebuah negeri, semua orang akan merasakan akibatnya, tidak hanya orang-orang yang melakukan keburukan saja, yang baik-baik pun ikut terkena bencana.  Allah berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (QS. Al-Anfal: 25).

3.Penzaliman terhadap hak-hak manusia. Tidak ada akibat yang lebih buruk yang menjadi sebuah bencana selain dari penzaliman terhadap hak-hak manusia. Setiap orang, tanpa pandang warna kulit, warana rambut dan agama, semua dimuliakan Allah dan berikan hak oleh Allah untuk merasakan rahmt-Nya. Maka berhati-hatilah jangan sampai melanggar hak orang lain, mengambil hak orang lain, atau menzalimi orang lain. Anda boleh jadi karena lupa atau rerpaksa melanggar hak Allah dan berdosa kepada-Nya, dan itu bagi Allah sangat mudah untuk memaafkan Anda kalau Anda memohon ampun kepada-Nya. Tetapi pelanggaran terhadap hak asasi manusia tidaklah demikian. Kalau tidak dikembalikan di dunia, nanti akan dimintakan di akhirat, di sana menjadi orang yang bangkrut. Pelanggaran ini bisa menjadi bencana besar dan kerusakan di muka bumi. Allah berfirman:

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan (QS. Hud: 85).

4.Meninggalakan agama atau berpaling dari agama. Allah yang menciptakan semesta alam dan menetapkan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya. Manusia adalah bagian dari semesta alam, dan Allah-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Manusia ditakdirkan punya kelemahan, punya kekurangan, punya keinginan, dan diliputi kegaiban (tidak tahu) masa lalu, masa kini dan masa depan.  Karena itulah, Allah membuat sistem dan aturan yang paling cocok untuk manusia, sesuai dengan tabiat dan fitrahnya, agara manusia bisa meraih harapan dan merasakan hidup bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Sistem dan aturan itu ialah “Agama” yang harus diikuti oleh manusia. Orang-orang yang meninggalkan ajaran agama, merekalah yang menciptakan kerusakan di muka bumi. Allah berfriman:

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar (QS. Ali Imran: 73).

5. Kedurhakaan orang-orang yang hidup mewah, bergaya hedonis. Sesungguhnya yang banyak merusak tatanan, melanggar peraturan dan menghancurkan alam di sekitar kita ini ialah orang yang hidup mewah, atau orang-orang kaya, termasuk para penguasa/pejabat yang hidup berlebih-lebihan. Kalau ada orang miskin membuat kerusakan alam, paling kerusakannya tidak seberapa. Orang-orang miskin yang melanggar aturan atau membuat kerusakan itu karena terpaksa untuk mempertahankan hidup, sekadar untuk menutup rasa lapar. Tetapi orang-orang yang hidup mewah, mereka tidak cukup hanya merusak alam lingkungan, tetapi mereka merusak tatanan,  merusak aturan, melanggar perundang-undangan dan  mempengarhui penegak aturan. Bukti telah menunjukkan bahwa mereka yang terlibat melanggar hukum dan bermain dengan aparat penegak hukum demi meloloskan keserakahannya adalah orang-orang yang hidup bermegah-megahan. Pembuatan undang-undang di parlemen tidak jarang dipengaruhi oleh orang-orang yang hidup mewah dengan memberikan imbalan agar produk hukum yang dibuat mendukung kepentingannya. Dan anggota parlemennya itu sendiri juga sangat mungkin hidup bermewah-mewah. Maka sungguh benar firman Allah seperti di bawah ini!

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu untuk mengikuti peraturan tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS. Al-Isra’: 16).

Seperti sudah dikatakan bahwa sekian banyak penyebab kerusakan tersebut adalah turunan dari sebab yang satu yaitu “Serakah” atau terlalu cinta dunia. Terlalu cinta dunia akan menjadikan orang terus berangan-angan panjang: Ingin memiliki apa saja dengan cara apa saja. Ingin hidup lebih lama dan takut mati, biaya mahal tidak masal.

Untuk bisa mendapatkan apa saja, orang tidak memikirkan lagi akibat buruk akhirnya. Demi bisa mendapatkan materi dan uang yang banyak tanpa harus menjalani proses yang seharusnya, orang mau menggadaikan harga diri, mengabaikan norma kesusilaan, menjual kehormatan, dan tidak lagi mementingkan kemerdekaan dirinya. Agar bisa terus menikmati materi dan kesenangan hidup, orang rela mengeluarkan biaya, kalau mungkin beli “umur” tambahan. Dalam kondisi orang sedang asyik-asyikinya merasakan kesenangan hidup, saat itulah sesungguhnya dia justru sangat takut pada kematian. Takut mati membuatnya tidak mau mengambil risiko berjuang bersama masyarakat. Dia lebih senang mengikuti arus air kelompoknya ke mana mengalir, mengikuti arah angin ke mana bertiup, tidak punya konsistensi memegang kebenaran Ilahiah. Inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw dalam sabdany:

يوشك أن تداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدورعدوكم المهابة منكم وليقذفن في قلوبكم الوهن فقال قائل : يا رسول الله وما الوهن ؟ قال: حب الدنيا، وكراهية الموت

Hampir saja bangsa-bangsa dunia mengepung kamu seperti orang-orang yang berpesta mengepung hidangan. Seorang bertanya: Apakah kita sedikit pada hari itu? Rasulullah Saw menjawab: “Bahkan kamu pada hari itu sangat banyak, tetapi kamu adalah buih seperti buih yang terbawa banjir. Sungguh Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu (sehingga melecehkan kamu), dan Allah melemparkan wahn di dalam hati kamu. Seorang bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu wahn? Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Dengan demikian dapat diketahui bahwa masalah kita masa kini tidak lain adalah “Wahn.”  Seorang Dai bernama Ali Zainal Abidin Al-Yamani mengatakan: “Pada hakikatnya saya melihat inti permasalahan kehidupan manusia dan seluruh musibah besar yang menimpa manusia, semuanya kembali kepada cinta dunia dan takut mati. Dan yang bisa mencegah dan menyembuhkan keduanya hanyalah tasawuf dalam arti yang sesunggunya.”

Stefan Raahmot Guru Besar bidang Studi Islam berkebangsaan Jerman di Universitas Bochum menyatakan bahwa “Tasawuf adalah Jantung Islam.” Eric Giovroa, Guru Besar berkebangsaan Perancis di Universitas Luxembourg menegaskan: “Masa depan dunia Islam dipastikan tergantung pada arus tasawuf, bahkan ada generasi muslim baru yang menegaskan bahwa solusi masalah kehidupan masa kini ada di tangan tasawuf.”

Mengapa tasawuf menjadi solusi? Sebab semua masalah dimulai dari hati yang kotor dan jiwa yang kumuh. Dan hati itu sendiri adalah komandan tertinggi bagi seseorang. Jika dia baik, maka baiklah seluruh jasad; jika rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Di dalam diri juga ada ruh, maka ruh harus terus dihubungkan dengan Allah agar mencapai spiritualitas. Dalam tasawuf, hati dikondisikan sedemikian rupa sehingga menjadi suci dan bersih dari berbagai penyakit mental. Hati yang bersih, jiwa yang seimbang dan ruh yang selalu mikraj kepada Allah akan membangun spiritualitas.  Dengan spiritualitas, manusia akan menemukan makna dan arti hidup yang sesungguhnya. Dengan spiritualitas, manusia mampu menjawab semua persoalan yang tidak bisa dijawab dengan pikiran dan teknologi. Dengan tasawuf, manusia akan menemukan kesejatian dari semua hal yang ada, maka dia akan menjadi orang yang sangat bijaksana dalam menjalani hidup dan sangat menghargai semua perbedaan dan keberagaman yang ada di luar.

Singkatnya, puncak kehidupan spiritual diperoleh dalam tasawuf. Dengan spiritualitas, manusia mendapatkan kesadaran Ilahiah tertinggi dalam menjalankan misi hidup. Dengan spiritualitas, manusia membangun keselarasan dan kesemimbangan dengan semesta alam. Dan keseimbangan itu sendiri merupakan asas kebahagiaan, maka hidup yang seimbang disebut harmonis. Harmonis berarti selaras, dan selaras itu indah dan menyenangkan. Tasawuf bukan wacana, tetapi tasawuf adalah tindakan nyata dan kongkrit yang keluar murni dari hati yang bersih dan jiwa yang suci. Tasawuf mendudukkan manusia sebagai makhluk yang paling terhormat dan tidak boleh dikotori oleh nafsu. Tasawuf menciptakan rasa keindahan dalam hidup, rasa cinta, rasa damai, tentram, bahagia, dekat dengan Tuhan, dan juga dekat sesama makhluk Tuhan.

Untuk bisa bertasawuf  tidak cukup dari membaca buku atau tulisan, harus ada orang yang langsung mendidik dan membimbing untuk beraksi, berpraktek, bertindak, beramal dan melakukan. Sebab ilmu yang didapat dari buku, itu namanya pengetahuan atau informasi. Dan sifat informasi adalah bebas, boleh dilakukan boleh juga diabaikan, boleh dicoba boleh ditinggalkan. Di era informasi ini, bisa jadi tidak bertemu secara fisik dengan seorang guru, tetapi bisa juga lewat media yang ada. Sungguhpun demikian, sangat dianjurkan untuk bertemu langsung dengan seorang guru. Guru dalam tasawuf, bukanlah orang yang hanya memberikan petunjuk dengan kata-kata, tetapi dia membimbing dengan tenaga dan pikirannya sampai pada tujuan. Seorang guru, bukanlah orang yang memberitahu, tetapi mengantarkan dengan ilmu dan tenaga bahkan biaya sampai tahu dan benar-benar bisa menjalankan. Seorang guru bukanlah orang yang menunjukkan arah jalan, tetapi dia adalah orang yang menemani dalam perjalanan dan mengantarkannya hingga sampa pada tempatnya. Guru adalah orang yang tidak hanya menunjukkan pintu mana yang harus dilewati, tetapi dia menemani sampai bisa membuka pintu dan masuk bersamanya. Guru bukan orang yang hanya memberi nasihat lalu selesai, tetapi dia mengawasi dan mengawal sampai di mana nasehat itu diaplikasikan. Dialah yang punya perhatian besar terhadap muridnya dan mengingatkannya agar tidak terlena oleh nafsunya.

Kajian terkait

Halaman 1


 
Copyright © 2015 saifuddinaman.com All Rights Reserved
Web Development by YOGYAweb