Hubungi Kami

Informasi lengkap anda dapat menghubungi kami melalui

email saifuddinaman@gmail.com
phone 0857 7900 817
bb --------------
 
Rekening Kami
0392 0101 8973 501 (an H SAIFUDDIN AMAN)
0014788608 (an SAIFUDDIN AMAN H)
2281317824 (an H SAIFUDDUN AMAN)
 
Visitor
Flag Counter
Transformasi Makna Ibadah Dalam Kehidupan
Tanggal Posting : Senin, 28 November 2016
Pengirim : H Saifuddin Aman - dibaca 220 kali

TRANSFORMASI MAKNA IBADAH DALAM KEHIDUPAN

(Kkotbah Jum’at, 31 Juli 2015, di Masjid Cut Mutia)

Saudaraku rahimakumullah! Mari kita bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Mari kita sampaikan shalawat dan salam untuk baginda Rasulullah dengan mengucapkan “Allahumma shalli wasallim ala muhammad.” Dan mari bermohon kepada Allah semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah, yang dirindukan Allah, yang disayang Allah, yang dirahmati Allah, yang diberkahi Allah, yang hidup istiqamah, yang berjuang dan rajin ibadah, panjang umur sihhah wal  afiah, diberikan rezeki berlimpah ruah, yang hidup rukun sakinah mawaddah wa rahmah, diberikan anak cucu yang shaleh dan shalehah, hidup hamonis saling berkhidmah, watawashu bishshabri watawashau bilmarhamah, dikuatkan dalam menghadapi fitnah dan musibah, meraih hidup husnul khatimah, masuk syurga dengan berjamaah. Masuk golongan nabiyyin, wash shiddiqqin, wasy syuhadai wash shalihin. 

Hadirin yang dimuliakan Allah! Baru saja kita lewati bulan Ramadhan. Di bulan ini kita melakukan banyak ibadah dan amal shaleh. Di bulan ini kita kumpulkan pahala yang sebanyak-banyaknya. Malam hari kita isi dengan shalat taraweh dan shalat tahajjud, siang harinya kita isi dengan berpuasa dan banyak melakukan kebaikan. 

Secara syariat Ramadhan dan Puasa sudah berlalu. Ketika kita sudah menjalankan ibadah, berarti kita sudah menjalankan perintah Allah,  terbebas dari taklif dan selesai tugas. Kalau orientasi kita hanya pada tugas atau pelaksanaan, maka selesai ibadah berarti selesai tugas. Selesai tugas berarti berhenti tidak melakukan apa-apa. Tidak melakukan apa-apa berarti tidak mendapatkan apa-apa dan tidak ada kebaikan. Berarti ibadah tidak membawa pengarus dan tidak membuat orang berubah menjadi lebih baik.

Padahal Allah menyariatkan ibadah itu ada makna dan ada tujuan yang disasar sesudahnya. Tujuan disyariatkannya ibadah kepada manusia ialah agar manusia menjadi bersih, terdidik, cerdas, baik, menciptakan kebaikan dan menjadi agen kebaikan. Ibnu Qayyim berkata:

فان الشريعة مبناها واساسها على الحكم ومصالح العباد فى المعاشى والمعاد

Sesungguhnya syariat, bangunan dan pondasinya ditegakkan di atas hikmah dan kebaikan manusia dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Karena itu, mari kita ketemukan hikmah, makna dan kebaikan dari setiap ibadah yang kita lakukan. Setiap ibadah yang kita lakukan, hendaknya bisa menuju sampai kepada hakikat. Setiap ibadah seharusnya ada pengaruhnya sesudah dijalankan. Setiap ketentuan hukum Allah harus sampai pada substansinya. Dan lebih penting lagi, hendaknya setiap ibadah yang kita lakukan bisa kita rasakan kelezatannya dan kita rasakan efek pisitifnya yang berkelanjutan. Saat beribadah, kita ibaratkan kita sedang meminum obat kuat, kalau sesudah minum kok tidak menggairahkan, berarti obat itu bohong.

Tujuan disyariatkannya ibadah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim di atas, adalah membuat manusia menjadi baik, menciptakan kebaikan, menjadi agen kebaikan dan mendapatkan kebaikan untuk kehidupan dunia dan akahirat. Kebaikan dunia harus diwujudkan lebih dahulu baru kemudian kebaikan akhirat. Kebaikan dunia harus terwujud lebih dahulu dan bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain, baru nanti akan diperoleh kebaikan di akhirat. 

Puasa dan ibadah di bulan Ramadhan, di antara tujuannya dan semangatnya adalah menjadikan kita menjadi:

1. Orang yang bersyukur.

2. Orang yang bersabar.

3. Orang yang berbuat baik.

4. Orang yang berkasih sayang.

Orang yang bersyukur, yaitu orang yang menerima kondisi yang ada dan apa yang ada dengan ridha dan senang hati. Dia merasa cukup, tidak merasa kurang dan bahkan merasa lebih, lalu yang ada itu digunakan sebaik-baiknya untuk taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Syukur mudah diucapkan tetapi sulit diamalkan secara sempurna, karena memang syukur ini selalu dihalang-halangi oleh Iblis. Allah berfiaman dalam Surat Al-A’raf ayat 16-17.

Syarat syukur harus ikhlas. Sebab Allah hanya menerima orang yang ikhlas. Untuk bisa ikhlas juga tidak mudah, karena Iblis terus-menerus menglanginya. Allah berfirman dalam Surat Al-Hijir ayat 39-40:

Orang yang bersabar, yaitu orang yang bisa menahan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan dan dan dari hal-hal yang dilarang Allah, konsisten menjalankan apa yang sudah direncanakan oleh pikiran dan ditetapkan oleh syariat.

Orang yang berbuat baik, yaitu orang yang terus melakukan kebaikan walau diperlakukan tidak baik orang lain. Orang baik bukanlah orang yang sehari-hari hanya duduk di dalam masjid, tetapi dialah yang berhubungan dengan masyarakat dan terlibat dalam membantu urusan mereka. Orang yang baik, dialah orang yang bergumul dengan orang-orang yang tidak baik, lalu memberikan pencerahan kepada mereka. Orang-orang buruk baginya adalah batu ujian untuk meningkatkan kebaikannya.

Orang yang berkasih sayang, yaitu orang yang lembut hatinya, lapang dadanya, menebarkan senyum, berbagi kasih kepada sesama, peduli dan simpati kepada orang-orang yang kurang baik nasibnya. Inilah orang yang disebut Allah sebagai orang yang penuh kasih sayang, yang dicotohkan oleh Rasulullah Saw. 

Rasulullah menyatakan:

الراحمون يرحمهم الرحمن 

ارحموا من فى الارض يرحمكم من فى السماء

Bersyukur, bersabar, berbuat baik dan berkasih sayang, itulah hakikat dari makna ibadah, dan itulah substansi dari bukti ketakwaan kepada Allah. 

Kajian terkait

Halaman 1


 
Copyright © 2015 saifuddinaman.com All Rights Reserved
Web Development by YOGYAweb